Selengkpnya Lihat Tweet @fauziima: https://twitter.com/fauziima/status selengkapnya
Posted via Blogaway
Selengkpnya Lihat Tweet @fauziima: https://twitter.com/fauziima/status selengkapnya
Manchester United (MU) naik ke peringkat ketiga klasemen sementara Premier League setelah berhasil mengalahkan Southampton
2-1 di St Mary Stadium, Senin atau Selasa
(9/12/2014).
MU menempati posisi ketiga dengan
perolehan poin 28 dari 15 laga, kalah lima
angka dari Manchester City di posisi kedua.
Sementara itu, Sou thampton turun ke
peringkat kelima dengan perolehan poin 26.
Kedua tim memainkan tempo lambat sejak menit-menit awal pertandingan.
Southampton terlihat lebih banyak mencoba
menekan MU dengan beberapa kali
melakukan serangan dari sayap kanan
pertahanan MU. Meski begitu, MU mampu unggul lebih dulu saat laga memasuki menit ke-12 berkat gol Robin van Persie. Gol tersebut berawal dari
kesalahan bek Southampton, Fonte saat ini memberikan backpass ke kiper Fraser Forster.
Van Persie kemudian dengan cepat mencuri
bola tersebut. Dengan tenang, bomber asal
Belanda itu menceploskan bola ke pojok kiri gawang Southampton untuk membuat timnya
unggul lebih dulu.
Tertinggal, Southampton berusaha membalas. Sepanjang babak pertama, skuad asuhan Ronald Koeman itu mampu menekan karena koordinasi para pemain di barisan pertahanan MU terlihat kurang baik. Upaya mereka pun akhirnya membuahkan hasil pada menit ke-31. Adalah Graziano Pelle yang sukses mencatatkan namanya di papan skor untuk mengubah skor menjadi
1-1. Skor itu pun bertahan hingga turun minum.
Pada babak kedua, MU masih kesulitan menembus rapatnya barisan pertahanan Southampton. Beberapa kali serangan Wayne Rooney dan kawan-kawan selalu dapat dengan mudah dipatahkan oleh para bek Soton.
Sementara itu, tim tuan rumah mampu
menciptakan beberapa peluang emas untuk berbalik unggul. Beruntung bagi MU, kiper David De Gea mampu tampil gemilangdengan menahan sejumlah tembakan tim lawan.
Pada menit ke-71, MU akhirnya berhasil
kembali unggul menjadi 2-1 berkat gol kedua Van Persie di pertandingan ini. Gol tersebut diciptakan Van Persie setelah menerima umpan tendangan bebas Rooney.
Kembali tertinggal, Southampton berusaha membalas. Pada menit ke-77, mereka hampir saja menyamakan kedudukan jika bola tendangan Sadio Mane tidak dapat ditepis dengan baik oleh De Gea. Terus mencoba menyamakan kedudukan,
sejumlah peluang Southampton tidak dapat dikonversikan menjadi gol. Skor 2-1 untuk MU pun akhirnya tetap bertahan hingga wasit meniup peluit panjang.
Menurut catatan ESPN, sepanjang laga, MU menguasai bola sebanyak 48 persen dan menciptakan dua peluang emas dari tiga usaha. Adapun tim tuan rumah melepaskan empat tembakan akurat dari 15 percobaan.
Susunan pemain:
Southampton: 23-Fraser Forster; 2-Nathaniel
Clyne, 3-Maya Yoshida, 6-Jose Fonte, 21-
Ryan Bertrand, 8-Steven Davis, 10-Sadio
Mane, 12-Victor Wanyama, 7-Shane Long (24-Emmanuel Mayuka 79), 11-Dusan Tadic (42-Jake Hesketh 70), 19-Graziano Pelle
Manajer: Ronald Koeman
Manchester United : 1-David De Gea; 5-
Marcos Rojo, 12-Chris Smalling (6-Jonathan Evans 18), 33-Patrick McNair (21-Ander Herrera 40), 8-Juan Mata (24-Darren Fletcher 89), 16-Michael Carrick, 18-Ashley Young, 25-Antonio Valencia, 31-Marouane Fellaini, 10-Wayne Rooney, 20- Robin van Persie
Manajer: Louis van Gaal
Ngeseks untuk semangat belajar,
katanya
Siska dan Rizal (bukan nama sebenarnya)
adalah pasangan kekasih. Mereka berkuliah
di jurusan berbeda, namun fakultasnya sama,
di sebuah perguruan tinggi di Solo, Jawa
Tengah. Konon, belum lama mereka "jadian".
Itu pun bermula dari kecelakaan lalu lintas
yang terjadi di sebuah ruas jalan di belakang
kampus mereka. Kecelakaan yang membawa
"hikmah", insiden itu justru menyebabkan
mereka lengket bagai perangko.
Rizal adalah tipikal remaja yang telah
mengenal hubungan seks sejak SMU.
Sebaliknya, Siska justru seorang gadis yang
punya jati diri, punya integritas moral yang
amat bagus, aktivis yang disegani. Cara
pandang Siska terhadap seks adalah apabila
kelak telah sah menjadi seorang istri, barulah
ia persembahkan kegadisannya pada suami
yang telah resmi menikahinya. Bahwa Siska
menerima uluran tangan Rizal untuk "jadian"
merupakan hal yang mengherankan bagi
sebagian teman-temannya.
Beberapa sahabat Siska mengingatkan Siska
untuk jangan main-main dengan Rizal.
Namun, Siska memiliki alasan yang selama
ini menjadi alasan klasik para wanita untuk
menjawab komplain atau berbagai
pertanyaan yang ada hubungannya dengan
pacar atau suami yang dipilihnya.
"Saya akan tunjukkan bahwa setelah saya
menjadi pacarnya, ia akan berubah. Dengan
saya mengendalikannya, ia akan fokus pada
belajar, tidak lagi mabuk-mabukan, tak lagi
ngedrugs. Lihat saja."
***
Setelah perjalanan hubungan antara Siska
dan Rizal itu berjalan beberapa bulan, Rizal
mulai jengkel. Rizal merasa hubungan
pacaran yang dijalaninya jalan di tempat,
padahal ia ingin ada ngeseksnya.
Pada sebuah saat ketika akan ada ujian mid
semesteran, Rizal mengutarakan isi hatinya
pada kekasihnya. Ia mula-mula
menggunakan bahasa wajah yang terbaca
jelas dari raut mukanya. Siska melihat ada
mendung di wajah itu.
"Ada apa, Zal?" bertanya Siska.
"Beberapa hari lagi aku menghadapi
semesteran."
"Terus, persiapanmu?"
"Aku membutuhkan suntikan semangat."
Siska tersenyum. Dari wajahnya ada
semangat.
"Maju terus, Zal. Aku yang akan memberimu
semangat. Belajar keras, maju terus pantang
mundur. Ayo, kamu bisa," Siska mengepalkan
tangannya.
Rizal tersenyum kecut.
"Ada apa sih, Sayang? Kan sudah aku pompa
dengan semangat? Kok masih mendung?"
"Aku butuh pelampiasan emosi. Aku butuh
berciuman. Selama ini aku hanya sebatas
berangan-angan, tetapi hasratku tak pernah
kesampaian. Ayolah, Siska, bantu aku!"
Dengan segera, Siska memahami ke mana
arah pembicaraan itu.
"Ayolah ke mana?" jawab Siska.
"Aku ingin berciuman."
Siska menatap lekat. Siska telah banyak
melihat dan mendengar. Ia amat paham,
berciuman adalah pintu pembuka ke jenjang
kegiatan berikutnya.
"Berciumannya di mana?" lanjut Siska.
"Kita pergi ke suatu tempat di mana kita bisa
melakukan itu dengan leluasa. Ya?"
"Ke suatu tempat itu ke mana?" Siska lebih
menegas. Pandangan matanya masih
berlepotan senyum.
"Kita ke...hotel!"
Siska terdiam untuk beberapa saat lamanya
sambil memejamkan mata.
Siska yang memejam membuka mata
kembali. Dipandanginya sang pacar dengan
tatapan mata lekat, agak sayu dan mesra.
"Kalau aku penuhi keinginanmu, kau janji
akan belajar lebih keras, akan mendapatkan
nilai di atas tiga?"
Mata Rizal seketika gemerlap. Pemuda itu
langsung mengangkat dua jari tangannya.
"I promise !" jawabnya, "aku tidak akan
mengecewakanmu."
"Apa yang kita lakukan nanti setelah sampai
di hotel?"
"Kita tidak melakukan apa-apa, sekadar
berpelukan atau hanya berciuman. Itu sudah
cukup bagiku. Aku berjanji, aku bisa menjaga
diri. Aku tidak akan melakukan lebih dari
yang kau minta. Percayalah!"
Siska menggelang.
"Tidak," jawab gadis itu datar. "Jika memang
kau membutuhkan pelampiasan dengan
berhubungan seks, tidak apa-apa. Aku akan
mewujudkan. Sekarang, kamu pulanglah.
Nanti petang kamu datang ke sini lagi. Aku
harus mempersiapkan mentalku dulu."
***
Saat yang dijanjikan tiba. Rizal dibuat
terheran-heran oleh penampilan kekasihnya
yang berubah menjadi tomboi. Rizal semakin
bertambah heran ketika Siska menempatkan
diri di kemudi mobil, lengkap dengan sarung
tangan dan kaca mata hitam.
"Siap?" bertanya Siska dengan mengumbar
senyum.
Rizal tambah terheran-heran. Sepatutnya
dialah yang menanyakan kesiapan mental
itu.
"Aku siap."
"Ayo, kita ke hotel yang telah aku pilihkan
untukmu. Ada televisi, air mandinya hangat,
ada AC dan minibar yang kulkasnya penuh
dengan minuman."
Rizal semakin terbelalak. Sedemikian besar,
cinta Siska kepadanya. Sampai kamar yang
akan dipakai pun telah disiapkan.
Ketika sampai di hotel, Rizal tambah
penasaran. Tanpa ragu, Siska melangkah
menuju resepsionis untuk mengambil kunci
yang telah dititipkan. Dengan kerling mata
genit, Siska mengajak kekasihnya naik ke
lantai atas. Siska pula yang membukakan
pintu.
Tambah terbelalak Rizal ketika masuk ke
dalam kamar yang telah dibooking itu.
Rupanya Siska amat memperhatikan hal-hal
sampai sekecil-kecilnya. Di dinding ada
tulisan hiasan: Ngeseks untuk semangat
belajar. Hurufnya memakai font model lucida
black letter italic. Latar belakangnya merah
darah, sangat menyala. Di atas tempat tidur
bertabur mawar dan melati.
"Aku ke kamar mandi dulu. Kamu berbaring
sana," ucap Siska.
Rizal gugup melepas sepatu dan melenting
ke atas pembaringan, lengkap dengan
jantung yang berpacu kencang. Senyum
pemuda itu tambah mereka ketika melihat
Siska melengkapi nuansa indah itu dengan
buah apel, jeruk dan salak, juga ada
minuman yang memabukkan, sejenis wishky.
Rizal menyembunyikan tawanya di balik
bantal, luapan gembira yang bukan alang
kepalang. "Benar-benar luar biasa," ucap
Rizal dalam hati.
Siska keluar dari kamar mandi.
"Bagaimana? Kamu siap tempur?" bertanya
Siska.
"Siap," jawab Rizal.
***
Rizal yang tak sabar mulai menelanjangi diri
sendiri. Baju yang dikenakan dilepas dan
dilempar ke lantai, disusul celana jeans.
Ketika Rizal mulai memelorotkan celana
dalam, Siska membalikkan badan.
"Baiklah, selamat menikmati. Semoga kamu
bisa semangat belajar."
Selesai dengan ucapannya itu, Siska
membuka pintu dan keluar dari ruangan itu.
Rizal merasa ada sesuatu yang tak wajar.
Tiba-tiba, dari kamar mandi, keluarlah
seorang perempuan lain. Ia berusia dua kali
lipat dari usia Rizal. Entah pelacur yang
sering mangkal di mana, namun dengan
ketelanjangannya, tanpa ragu bahkan dengan
amat bernafsu ia langsung menyerbu Rizal.
Seketika, Rizal dibuat kalang kabut.
"Hei," teriak Rizal, "kamu siapa?"
Pelacur itu hanya tersenyum.
***
Dua jam setelah itu, dengan wajah merah
padam Rizal menemui Siska. Kemarahan
yang tertahan tampak jelas di raut mukanya.
Melihat Rizal datang dengan membawa
lepotan kemarahannya, Siska hanya tertawa.
"Bagaimana? Tak ada alasan lagi untuk tidak
bisa konsentrasi belajar, kan? Nafsu kan
sudah dilampiaskan?"
Sebenarnya Rizal ingin mengeluarkan segala
macam sumpah serapah atas nama angan-
angan yang tidak kesampaian, juga atas
nama sejumlah uang yang harus ia bayar
untuk membayar akomodasi hotel dan
layanan pelacur yang sama sekali tidak
disentuhnya. Akan tetapi, Rizal mengalami
kesulitan mengeluarkan isi hatinya. Mulutnya
hanya bergetar-getar berlatar wajah yang
merah padam.
Siska tertawa setengah geli, namun sejatinya
Siska merasa ulu hatinya nyeri. Di sebuah
sisi, ia merasa telah memberikan ruang di
hatinya untuk pemuda itu. Namun sayang,
sama sekali tak ada perubahan sebagaimana
keinginannya.
"Pulanglah! Hubungan kita cukup sampai di
sini saja." Siska berbicara tegas.
Rizal terhenyak.
"Pulang, dan tidak usah menemui aku lagi!"
Siska akhirnya memamerkan wajah merah
padam pula, sukses meletupkan kemarahan
dengan setengah berteriak.
Hubungan Rizal dan Siska langsung rusak.
Dengan mental Rizal yang tak berubah, Siska
pilih memutuskan hubungan itu.
======
Kisah di atas merupakan kutipan selektif
dengan beberapa penyuntingan seperlunya,
dari buku karya Langit Kaha Wong@teleng,
Melibas Sekat Pembatas (Yogyakarta: Tinta,
2004) hlm. 250-262.
Copas by: https://kisahcantik.blogspot.com.es/2008/09/ngeseks-untuk-semangat-belajar-katanya.html?m=1